https://besibesi.com/images/blog/medium_28AE176C-6C4B-A4AB-3924-12A50DC10736.jpeg

Prospek Industri Baja Dalam Negeri

Di Indonesia, sektor konstruksi adalah pengguna akhir utama baja dan berkontribusi sekitar 78% dalam permintaan baja nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan infrastruktur Indonesia menyaksikan pertumbuhan yang signifikan. Anggaran pembangunan meningkat sekitar 157% sejak 2014 dan tetap meningkat lebih banyak di tahun-tahun mendatang. Kebijakan pengembangan infrastruktur saat ini mencakup pembangunan jalan raya, jalur kereta api, pelabuhan pengiriman, dan struktur komunikasi lainnya untuk meningkatkan konektivitas di negara ini. Peraturan Presiden menunjukkan ratusan proyek infrastruktur strategis yang akan dibangun berdasarkan prioritas, yang juga menentukan peningkatan permintaan baja berkelanjutan di negara tersebut. 

Di sisi lain, industri baja nasional belum mampu untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Industri baja terdiri dari beberapa produsen primer dan banyak produsen berbasis sekunder. Selain Krakatau Steel, produsen baja utama antara lain Gunung Raja Paksi dan Master Steel. Kapasitas baja mentah nasional adalah sekitar 6,7 juta ton, kapasitas baja setengah jadi sekitar 7 juta ton dan kapasitas rolling sekitar 14 juta ton. Produksi tertinggal jauh di belakang kapasitas karena kurangnya keuntungan. Negara ini setiap tahunnya memproduksi sekitar 5,5 juta ton baja mentah dan 7,5 juta ton baja jadi. Secara kompetitif, permintaan jauh lebih tinggi yang menyumbang sekitar 15 juta ton pada 2018.